Desa Trukan Sebagai Desa "Swasembada Pangan"

Desa Trukan merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Secara geografis, Desa Trukan berbatasan dengan Desa Panekan Kecamatan Eromoko di sebelah utara, Desa Sedayu di sebelah selatan, Desa Banaran di sebelah timur, dan Desa Tubokarto di sebelah barat. Desa ini memiliki luas wilayah sebesar 450.539 hektare yang terbagi menjadi 10 dusun, diantaranya Dusun Blongan, Gadog, Mindi, Kedung Ringin, Guyuban, Putat, Trukan, Pendem, Tambakrejo, dan Tambaksari. Jumlah total penduduk Desa Trukan mencapai 3.150 jiwa.

Desa Trukan memiliki banyak potensi pada berbagai sektor mulai dari sektor pertanian, perkebunan, hingga peternakan. Tanaman padi menjadi komoditas unggul pertanian desa ini, komoditas lainnya disusul oleh jagung dan cabe. Potensi pertanian yang dimiliki Desa Trukan membuat desa ini disebut sebagai desa Swasembada Pangan. Berdasarkan sektor perkebunan, tanaman tembakau menjadi komoditas unggul. Sedangkan pada sektor peternakan, desa ini  memiliki komoditas unggulan yaitu sapi, kambing, dan ayam. sebanyak 987 ekor, kambing sebanyak 891 ekor, ayam buras sebanyak 705 ekor, ayam pedaging sebanyak 36.000 ekor, dan bebek sebanyak 49 ekor.

Dengan memanfaatkan luas wilayah sebesar 50 hektare sebagai lahan untuk fasilitas umum, Desa Trukan mengakomodasi beberapa fasilitas umum, diantaranya fasilitas pendidikan, berupa 2 Taman Kanak-Kanak, 3 Sekolah Dasar, 1 Perpustakaan, dan Taman Pendidikan Al-Qur’an. Fasilitas peribadatan meliputi 11 masjid yang tersebar di 10 dusun. Fasilitas olahraga berupa lapangan sepak bola, lapangan bulu tangkis, serta 10 lapangan voli yang ada disetiap dusun. Selain itu terdapat saluran irigasi sebagai sumber mata air dan penunjang di sektor pertanian dan perkebunan, di antaranya yaitu Bendungan Jeblukan, Bendungan Dong Jambi, dam Sumber Mbeton.

ABOUT

Sejarah Desa Trukan dimulai dengan kedatangan 5 KK sebanyak 17 jiwa yang berasal dari wilayah selamat Kecamatan Pracimantoro atau lebih dikenal daerah Gunung Kidul. Pada masa itu terjadi bencana kekeringan, kelaparan, dan wabah penyakit Busung Lapar atau Pangebluk. Bencana tersebut memaksa penduduk untuk mengembara dan mengungsi ke wilayah timur laut sampai ke wilayah Desa Trukan. Penduduk yang mengungsi ke Desa Trukan membuat perjanjian bersama yaitu pembangunan tempat tinggal yang didirikan secara bersamaan. Jika ada yang terlambat maka akan diobong atau ribong (sing keri diobong). Seiring berjalannya waktu, banyak warga lain yang mengikuti jejak 5 KK tersebut.

 

Desa Trukan terdiri dari 10 dusun, diantaranya yaitu Dusun Blongan, Gadog, Mindi, Kedung Ringin, Guyuban, Putat, Trukan, Pendem, Tambakrejo, dan Tambaksari. Setiap dusun memiliki memiliki sejarahnya masing-masing. Pada masa itu, warga yang mengungsi disalah satu dusun kebanyakan berusia lanjut dan salah satu orang ada yang membawa tongkat atau teken. Tongkat tersebut terpendam tanah atau kependem lemah, sehingga dusun itu dinamakan dengan Dusun Pendem. Di bagian wilayah utara terdapat Dusun Guyuban, nama dusun tersebut terinspirasi dari sikap penduduknya yang guyub dan rukun dalam menata tempat. Terdapat tempat lain yang ramah, asri, dan dilalui sungai yang banyak ikannya, maka setiap hari penduduknya banyak yang mencari ikan (ngubek-ubek kali), maka tempat tersebut dinamakan Tambak Rejo. Selain itu, ada penduduk yang menemukan tempat yang memiliki banyak lubang atau bolongan. Lubang tersebut merupakan sarang landak, tikus, dan binatang lainnya, sehingga tempat tersebut dinamakan Dusun Blongan. Terdapat wilayah yang banyak ditumbuhi pohon mindi sangat subur dan rindang, sehingga wilayah tersebut dinamakan sebagai Dusun Mindi. Kelompok lain yang mengarah ke timur laut mentok atau gadog wilayah Baleharjo, Kecamatan Eromoko, sehingga tempat itu dinamakan Dusun Gadog. Penduduk lain ada yang menemukan banyak pohon beringin yang hidup di gundukan tengah sungai atau kedung, maka tempat tersebut dinamakan Dusun Kedung Ringin. Kelompok lain ada yang menemukan banyak pohon putat, maka tempat tersebut dinamakan Dusun Putat. Dari tempat-tempat yang ditemukan kelompok pengungsi sekarang menjadi dusun-dusun yang menjadi Desa Trukan.

Masyarakat Desa Trukan masih menjunjung tinggi nilai-nilai sosial. Rasa kekeluargaan dan gotong royong antar masyarakat masih terjalin kuat. Hal ini dapat dilihat ketika diadakan hajatan, beberapa masyarakat dari usia muda hingga tua akan beramai-ramai membantu sang pemilik hajatan, seperti memasak, menerima tamu, bahkan menjadi sinoman. Tidak hanya itu, ketika salah seorang penduduk ditimpa dengan kedukaan, rasa empati masyarakat Desa Trukan juga tinggi.

Masyarakat desa ini juga masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Beberapa budaya sejak zaman nenek moyang masih dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat Desa Trukan, seperti upacara bersih dusun atau biasa dikenal sebagai Rasulan. Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Desa Trukan kepada Tuhan yang Maha Esa atas nikmat yang diberikan.

Adat istiadat juga masih kental di desa ini seperti tradisi Bersih Dusun atau Rasulan. Upacara ini rutin diadakan setiap 1 tahun sekali sekitar bulan Juni hingga Juli. Setiap dusun di Desa Trukan melaksanakan upacara ini dengan rangkaian kegiatan yang hampir sama. Pada umumnya kegiatan dilaksanakan selama 2 hari. Pada hari pertama masyarakat pada setiap dusun akan bekerjasama membersihkan tempat yang ditumbuhi pohon tua yang disakralkan. Pohon tua tersebut akan dibuatkan pagar keliling yang disebut sebagai Resan. Pada hari kedua, juru kunci akan berdoa disekitar Resan kemudian kegiatan dilanjutkan dengan senam ibu-ibu, turnamen bola voly, dan encekan. Pada malam harinya diadakan wayang semalam suntuk untuk menghibur masyarakat Desa Trukan. Upacara semacam ini selain sebagai bentuk pelestarian kebudayaan, juga menjadi media untuk membangun rasa kekeluargaan dan kebersamaan masyarakat satu sama lain.

 

Porensi alam yang dimiliki desa ini telah menumbuhkan nilai budaya dan jiwa sosial masyarakatnya. Kehangatan masyarakat dan keindahan potensi alamnya memberikan hal positif bagi siapapun yang datang ke Desa Trukan. Alam dan manusia bersinergi bersama menciptakan komponen kehidupan yang selaras.

Dikenal sebagai desa Swasembada Pangan, Desa Trukan memiliki tataguna lahan persawahan dan ladang sebesar 305 hektare. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan tanah yang subur, potensi alam yang terjaga mampu memberikan keunggulan di bidang pertanian berupa padi, jagung, dan cabe, serta  di bidang perkebunan berupa tembakau. Padi menjadi komoditas utama di desa ini, terutama varietas Mapan PO5 yang hasil produksinya mencapai 11 ton per hektare.

 

Terwujudnya Desa Swasembada Pangan tidak lepas dari peran serta pemerintah Desa Trukan, upaya yang dilakukan antara lain dibentuknya GAPOKTAN yaitu Gabungan Kelompok Tani yang berperan sebagai fasilitator dalam pemberdayaan petani, mengetahui perkembangan petani, serta membantu menyelesaikan hambatan petani. Kelompok ini dibentuk guna untuk meningkatkan hasil panen para petani di Desa Trukan. Upaya lainnya yaitu dibentuknya program LUMPANG WATU atau Lumbung Pangan Warga Trukan Bersatu yang terdapat dimasing-masing dusun. Pembentukan kelompok ini bertujuan mengantisipasi terjadinya kelangkaan dan krisis pangan di Desa Trukan.

LINE_ALBUM_Website_230716_10

DESA TRUKAN

Desa Trukan adalah salah satu desa di kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia

Address

Jl Sedayu – Banaran, KM. 02, Trukan, Pracimantoro, Wonogiri

KODE POS 57664

Hours